Skip to content

Agussupiyat's Blog

"Khoirunnas yanfauhum linnas"

Category Archives: Sedekah

Tuesday, 08 December, 2009 9:59 AM
—– Original Message —–
Sent: Tuesday, 08 December, 2009 9:59 AM
Subject: [pengusaha-muslim] Rencana Buka Usaha Toko Buku
Bismillahirrohmanir rohim…
Assalamualikum wr.wb
Sahabat-sahabat Millist PM yang saya hormati.
saya sedang merencanakan untuk membuka toko buku (Terutama buku-Buku Islam)
tetapi saya masih bingung harus mulai darimana. untuk modal awal saya masih sangat minim <10jt
saya sekarang bertempat tinggal di Puspiptek Serpong-Tangerang
Mohon kiranya sahabat semua bisa membantu memberikan pencerahan atau bahkan bisa bekerja sama
dalam hal permodalan (dana ataupun Produk)
sebai informasi tambahan. saya juga berpengalaman dalam hal berjualan
karena pada saat saya SD s/d STM saya sering menggantikan Ibu Berjualan Pakaian dipasar
Alhamdulillah Ibu sudah punya toko sendiri didaerah Cikupa-Tangerang
Atas saran & Perhatiannya saya ucapkan jazakumullah Khoiron katsironSalam sahabat
Agus Supiyat
agus_schnell@ yahoo.com
021-95194527

Dari: Afrizal <bajupoeti@gmail.com>
Kepada: pengusaha-muslim@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 8 Desember 2009 10:31
Judul: Re: [pengusaha-muslim] Rencana Buka Usaha Toko Buku
Wa’alaikum salam,
Untuk usaha toko buku, itu bisa sistem konsinyasi pak. Saya pernah tanya waktu pameran buku di senayan. Ada diskon 30% atau 35% bahkan 50%.
Kalau sistem Full konsiyasi, itu diskon nya sedikit sekitar 30%, kalau barang gak laku bisa dikembalikan dan ditukar.
Kalau sistem bayar tempo itu lebh besar keuntungan(diskon) nya, ini arti barang dianggap sudah terjual, cuma pembayaran nya saja yang tempo.
Wassalam
Afrizal MT
HP 08131552-7965
Flexy 021-33877086
www.bajupoeti. com
www.poeticollection .blogspot. com
www.ubcimart. com
YM :  afrizalsyafri
“InginJadiSaudagarH idupBahagiaDanMe mbahagiakanPenuh BerkahBagiLingku ngan”
11 Juli 2013 11.23
———- Pesan terusan ———-
Dari: Agus Supiyat <agus_schnell@yahoo.com>
Tanggal: 11 Juli 2013 11.23
Subjek: Bls: [pengusaha-muslim] Rencana Buka Usaha Toko Buku
Kepada: “pengusaha-muslim@yahoogroups.com” <pengusaha-muslim@yahoogroups.com>, Afrizal PM <bajupoeti@gmail.com>
Cc: agus 3 <agussupiyat@gmail.com>
Assalamualaikum wr.wb.
pak afrizal yang saya hormati, setelah hampir 4 tahun tidak aktif lagi di millist pengusaha muslim, pada hari ke-2 ramadhan ini saya tanpa sengaja kembali membuka email-email lama, terutama saya masih teringat ketika dulu menulis email untuk meminta saran kepada sahabat-sahabt di milis pengusaha muslim.
Alhamdulillah usaha toko buku yang saya rencanakan dulu sampai sekarang belum terwujud juga, padahal saya masih ingat bahwa email yang saya tulis tersebut bertepatan dengan hari terakhir saya bekerja di perusahaan konsultan perencana bangunan sebagai seorang engineer desain, karena memang saya lulusan S1 Teknik Sipil.
setelah memutuskan resign dari kantor saya tidak memiliki pekerjaan & yang menyedihkan lagi bahwa saya memiliki tunggakan angsuran motor selama 2 bulan.
Alhamdulillah waktu itu istri masih kerja sebagai bidan PTT di puskesmas didaerah serpong, kebutuhan makan sehari-hari masih terbantu dengan honor yang diterima oleh istri, meskipun harus menunggu 3 bulan untuk bisa mengambil hnor istri dikantor pos,
selama 3 bulan saya menganggur ( desember 2009, januari & pebruari 2010) kegiatan saya hanya mengantar & menjemput istri ke puskesmas. pada saat itu memang belum ada keinginan lagi mengajukan lamaran pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan. padahal waktu itu cukup banyak teman yang menawarkan saya pekerjaan. tetapi kebanyakan lokasi nya di luar kota. istri saya memang belum mau mengizinkan saya untuk bekerja diluar kota. akhirnya dengan kondisi seperti itu saya menjadi terpikir untuk melanjutkan niat saya membuat usaha sendiri. pada akhir pebruari 2010 Allah mendatangkan teman saya yang dulu pernah bekerja satu kantor dengan saya hanya saja beda posisi, teman saya itu sebagai marketing sedangkan saya sebagai engineer desain. pada saat itu teman saya tersebut menyampaikan niat nya untuk mengajak saya membuka usaha dibidang perencana bangunan, karena memang basic saya dibidang tersebut & teman saya yang akan mencarikan ordernya.
satu bulan pertama berjalan saya dan teman saya berkeliling jakarta untuk bersilaturahim dengan rekan bisnis dikantor lama & menyampaikan kondisi kita saat itu bahwa kita sudah membuat usaha sendiri. yang saya ingat waktu itu setiap pagi kami janjian untuk mengunjungi target marketing kami, siang nya sambil menyusun rencan kedepannya kami istirahat di mesjid, karena saking sering seperti itu bahkan kami sempat beranggapan bahwa setiap mesjid dijakarta adalah kantor kami.
kendala kami saat itu kami belum punya bendera / perusahaan yang bisa kami tawarkan / kami kenalkan kepada calon market kami. awal maret 2010 saya dan teman saya berinisiatif untuk membuat legalitas perusahaan ke seorang notaris. setelah mendapat informasi kisaran biaya dan persayarat mendirikan suatu perusahaan kami akhirnya memberanikan diri mengajukan pembuatan legalitas perusahaan, hanya saja saat itu kami belum punya dana untuk biaya pembuatan legalitas tersebut. akhirnya teman saya memberanikan diri untuk meminjam uang kepada istrinya sebesar 1.5jt. berbekal dana 1.5jt kami menoba bernegosiasi dengan ibu notaris untuk biaya pembuatan legalitas nya bisa di angsur selama 3 kali (saat itu biaya pembuatan legalitas perusahaan sekitar 7.5jt). Alhamdulillah ibu notaris tersebut mau mengerti keadaan kami. dia setuju dengan sistem pembayaran yang kami ajukan. setelah mendapat kelonggaran dalam membuat legalitas perusahaan kami berdua sepakat untuk menambah 1 orang yang bisa membantu kami dalam membuat perencanaan keuangan. Alhamdulillah kami dipertemukan dengan teman yang memiliki visi yang sama menjadi pengusaha, dengan 3 orang yang memiliki kapasitas yang berbeda kami rasa sudah menjadi modal yang cukup untuk menjalankan suatu perusahaan. meskipun saat itu kami tidak memiliki modal secara financial. modal kami saat itu hanya 1 buah Pc, 1 buah printer. Alhamdulillah perusahaan kami berjalan, sampai tahun 2013 kami bertiga sudah memiliki 40 orang karyawan dan sudah ada 2 perusahaanyang kami dirikan.
Semoga kisah ini menjadi sebuah kabar baik bagi bapak yang sudah berkenan memberikan kontribusi saran nya, kami juga berharap doa dan motivasi dari rekan-rekan milis pengusaha muslim agar usaha kami semakin besar & bisa memberikan banyak manfaat bagi umat agar kami mendapat ridho dari Allah SWT.
salam hormat
Agus Supiyat.
Dari: wirat songko<wirat_songko@yahoo.com>
Tanggal: 12 Juli 2013 07.23
Subjek: Re: Bls: [pengusaha-muslim] Rencana Buka Usaha Toko Buku
Kepada: pengusaha-muslim@yahoogroups.com, Afrizal PM <bajupoeti@gmail.com>
Cc: agus 3 <agussupiyat@gmail.com>

Amiiin, senang sekali mendengar cerita saudara, success selalu dan semoga terus berkembang menjadi perusahaan yg selalu amanah dan di ridhoi Allah SWT.
Wassalam,Wirat Songko

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dari: lutfi zunaedi <zunaedilutfi@yahoo.com>
Tanggal: 13 Juli 2013 10.59
Subjek: Bls: Bls: [pengusaha-muslim] Rencana Buka Usaha Toko Buku
Kepada: “pengusaha-muslim@yahoogroups.com” <pengusaha-muslim@yahoogroups.com>, Afrizal PM <bajupoeti@gmail.com>
Cc: agus 3 <agussupiyat@gmail.com>

cerita yang inspiratif,
Intinya menjalin silaturahmi bisa membuka pintu rezeki
Salam
Lutfi

1. Penghasilan 10rb sebulan bagi mereka yang tuhannya adalah ALLAH sudah kebanyakan.
2. Ga ada duit ga bisa makan? Ada duit baru bisa makan? Ga lah. Bukan karena duit kita bisa begini begitu. Tapi karena Allah.
3. Kalo mau punya motor, rumah, mobil, harus ada duit, kasihan bener yg ga punya duit.
4. Haji, kalo harus pake duit, ga haji2 deh yg ga ada duit. Nyatanya yg punya duit juga banyak yg ga bisa pergi.
5. Yg udah byr, udah di pesawat, bisa disuruh turun lagi. Ada yg udah di Jeddah, ga bisa masuk ke Mekkah. Sbb bkn krn duit. Krn Allah.
6. Coba aja pergi ke rmh makan. Ga usah bawa duit. Masuk aja, pesen aja, makan aja. Berani? He he he… Engga… Yg bnr aja ustadz…?
7. Ke pasar, ga bawa duit, apa pasti ga bawa apa2 pulangnya? Coba dulu… Belom tentu. Pasar itu punya Allah. Coba bawa iman ke sana.
8. Mau beli nasi goreng, duit udah ada. Lalu pasti bisa kebeli itu nasi goreng? Sampe sana, tukang nasinya ga ada. Atau nasinya habis.
9. Udah kebeli tuh nasi goreng, belom tentu jg bs kemakan. Sampe rumah, ada tamu. Nemenin tamu. Nasi ditaro dulu di meja dapur.
10. He he he, lg ngobrol sama tamu, ponakan masuk. Bettt… Kita liat, tp lg ngobrol. Ada perasaan, jgn2 dimakan ponakan tuh nasi…
11. Tamu pulang, kita ke dapur. Alhamdulillaah… Alhamdulillaah tuh nasi tinggal kerupuk, he he he… Udah kebeli, ga bs kemakan.
12. Udah kemakan, belom tentu bisa ketelen. Semuanya bi-idznillaah… Makan, bi-idznillaah. Ga bisa makan, bi-idznillaah.
13. Bukan bi-idznid-duit.
14. Mau sedekah. Kudu ada uang? Ga sedekah2 dong. Mau bantu tetangga, kudu ada uang? Ga bisa bantu tetangga dong.
15. Mau usaha, kudu ada uang? Kudu ada modal? Ini penyebab ga jalan2 buat usaha. Bukan nunggu Allah, nunggu uang.
16. Cari Allah, usaha jalan.
(17-19 kosong. Kepencet kata Ustadz)
20. Seorang anak, blg ke ayahnya. “Pak, ikut ga nih…?” “Ikut apa?” “Ikut study tour…” “Ya ikut sana…” “Kalo ikut, duitnya mana?”
21. Itulah kita. Sejak kecil barangkali biasa apa2 kudu ada duit. Duit segalanya buat kita jadinya. Ga bisa apa2 kalo ga ada duit.
22. Kasihan. Harusnya, ga bisa apa2 kalau ga ada Allah. Jadi bergantungnya sama Allah saja. Allahush-shomad. Allah tempat brgantung.
23. Krn ga trlatih sejak kecil, maka ketika brhutang, harus ada duit supaya lunas itu hutang. Hasilnya? Malah ga lunas2. Pengalaman.
24. Nanti nyambung lagi ya. Habis shubuhan mau nikmatin pemandangan indah Rejang Lebong Bengkulu, sama mau ngobrol2 sama penduduk.
25. Seorang anak nanya kpd ayahnya, “Jadi ga ikut study-tour?” Anaknya nanya, sebab ayahnya ga ngasih2 uang buat bayar
26. Bismillaah dulu deh. InsyaAllah saya lanjutin kultwitnya. Ksh tau yg lain, spy mandi, sikat gigi, pake minyak wangi, stay-tune.
27. Ayahnya brusaha percaya, bhw ga bener semua hal kudu pake duit. Kapan lagi kalo ga dijajal nih? Begitu. “Nak.. Emangnya kudu byr?”
28. “Iya Yah. Kalo ga bayar, ga boleh ikut?” “Kata siapa?” “Kata walikelas.” “Itu kan bukan kata Allah…”
29. Anaknya jawab, “Kejauhan kali Yah. Bawa2 Allah di urusan studi tour…” Ayahnya jwb lagi, “Semua urusan kan mmng urusan Allah…”
30. “Terus gimana nih?” “Gimana apanya?” Gedubrak… Ayah gimana sih? Abang ikut ga nih studi tour? Kalo ikut, ya mana duitnya?”
31. Ayahnya jwb, “Ya ikut aja. Ga kudu pake duit. Ini minggu pagi. Allah akan bertamu ke kita. Abang dhuha aja. Ayah temanin…”
32. Ayahnya si abang nyuruh abang nyambut Allah, temuin Allah. “Abang bilang dah sama Allah, ya Allah, abang mau ikut studi tour…”
33. Abang lsg jwb, “Iya, abang mau ngomong sama Allah, ayah pelit…”. Ayahnya senyum… “Emang… Baru tau ya…” He he he…
34. “Ini gara2 ayah ngaji sama @yusuf_mansur ya? Ga mau kasih abang duit lagi…” (He he, koq saya dibawa2…? Hhhh…).
35. “Bang, ayah ga pelit. Ayah cuma mau kamu belajar. Ga bener apa aja hrs pake duit. Yg menjadikan abang nanti bergantung sama duit.”
36. “Kata Rasul, fa-idzaa sa-alta, fas-alillaah… Kalau mau minta, minta sama Allah. Allah Maha Kayo…”
37. “Koq Maha Kayo…?” “Iyo, ayah kan lagi di Bengkulu, he he he.”
38. Fa-idzasta’anta fasta’in billaa… Kalau mau minta tlg, minta jugalah sama Allah…
39. “Boko ayat sotos sembilan, su-et aali ‘imroon… Cobi buka ayat setunggal atus songo surah aali ‘imroon…”
40. Walillaahi maa fissamaawaati wamaa filardh. Tempat yg dituju studi tour, punya Allah. Minta aja sama Allah, spy bs ke sono…
41. Wa-ilallaahi turja’ul umuur. Semua urusan kembali kpd Allah. Yg punya duit, yg bayar study-tour, blm tentu bisa ke sono juga.
42. Dikasih sakit perut, ga bisa ke sekolah bahkan. Sedang ngumpulnya kan di sekolah.
43. Yg udah bayar, yg udah di bus, belom tentu juga bisa sampe ke tempat sudy tour. Sampe di KM 97 Cipularang…? He he he, wassalaam.
44. Jadi, kalo yg bayar belom tentu bisa jalan, maka yg ga bayar…?
45. Anaknya cepat menjawab, “Yang ga bayar, apalagiiiiiii…”. Ayahnya senyum… Kata @yusuf_mansur, karena kebiasaan apa2 pake duit.
46. Karena kebiasaan pake duit, apa2 kudu ada duit, maka jawabannya begitu. Ada duit blm tntu bs makan, apalagi ga ada duit.
47. Pdhl bisa jg begini, yg punya duit blm tentu bisa makan, maka trbuka peluang sebaliknya bagi yg ga punya duit
47. Yakni, belom tentu yg ga punya duit, ga bisa makan. Semua kembali ke Allah lagi. Posisi ikhtiar? Ikhtiar bukan Tuhan.
48. Posisi ikhtiar adalah ibadah. Bukan Tuhan. Kenapa kudu ikhtiar? Ya ibadah. Jgn brgantung pula sama ikhtiar.
49. Abang msh nunggu jawaban ayahnya… “Jadi…?” “Jadi ya dhuha dulu gih. Minta sama Allah. Ada ga ada duit, minta spy bs berangkat”
50. Kali ini ayahnya minta abang u/ nurut. “Spy abang belajar…”. Abang nurut. Abang dhuha. Abang doa. Ayahnya ikut mendampingi.
51. Setelah shalat… “Yah, udah beres dhuha dan doanya… Terus…?” “Terus ya tunggu dah. Kan baru besok senen studi tournya…”
52. Abang diajak nyapu2, bersih2, dan olahraga, sbg ikhtiarnya seorang anak.
53. Nah, sampe sini, ada peluang ngajar enterprenuer. Sambil nunggu besok, anak bisa diajak sedikit usaha. Tp nanti saja bab ini…
54. “Bang, zuhur nanti ngadep lagi sama Allah. Ashar, maghrib, isya. Shalat, doa. Shalat, doa. Shalat, doa. Sampe besok shubuh.”
55. Besok shubuhnya abang ga mandi. “Kenapa ga mandi?” “Mandi. Tar aja.” “Kenapa?” “Ga dikasih duit. Pasti ga bisa berangkat.”
56. Inilah sifat the looser. Kita rupanya dari kecil juga jadi the looser. Anak2 kita jadi the looser, sbb kita ayah ibu the looser…
57. “Bang, bangun… Mandi… Abang kan udah minta sama Allah… Allah pasti mendengar. Allah pasti kabulkan….
58. “Abang percaya abang bisa diberangkatkan Allah, maka keyakinan abang itulah yg bekerja… Abang yakinnya ga bisa, ya ga bisa…”
59. Abang ngeliat ayahnya. Ada wajah Yusuf Mansur di sana… (Loh loh loh… Kebawa lagi… Haddddeeehhhh…). Abang liat ayahnya…
60. Abang minta dikasihani sama ayahnya. Ayahnya ada duit. Bukan ga ada duit. Tapi pengeeeeeeeennn ngajarin tauhid sama anaknya…
61. Seperti yg diajarin sama @yusuf_mansur, gurunye, he he he… Muji sendiri.com. Ayahnya ngaminin @yusuf_mansur. Ajarkan ttg Allah.
62. Kenalkan anak dg Allah. Jangan kenalkan sama duit. Selama ini ayah ini ngaku kurang ngenalin diri anaknya ke Allah.
63. Seorang ayah bisa jadi Tuhan buat anak2nya, manakala dipenuhi betul semua urusan dg mudahnya. Tanpa perjuangan.
64. Anak akhirnya lemah, dan melemah. Karena kita. Kita pikir, sayang sama anak. Tapi trnyata merusak anak.
65. Sela2 kultwit, mampir ke danau dendam bengkulu. Kotor, ambil sapu. Ga apa2. Ga masalah. http://yfrog.com/nyo0pzqj
73. Sampe mana…? Sampe senen pagi ya…? Abang ga mandi, sbb yakinnya ga bakal berangkat, sbb ga bayar. Ayahnya memotivasi abang.
74. “Abang udah shalat, udah doa. Udah nemuin Allah, udah ngadu. Udah minta. Ga mungkin Allah sia-sia-in..” Abang liat lg wjh ayahnya.
75. Abang nanya, “Kalo nanti sampe sekolahan abang tetep ga boleh ikut…? Gimana…” Ayahnya jwb santai: “Ya pulang aja…” He he he.
76. “Ayah mah ga pernah sekolah. Ga pernah ngerasain ditinggal tur. Yg laen pergi, abang engga…”
77. The looser tuh gitu. Dlm bentuknya yg lain, kita ngalamin sendiri. Belom trjadi, pengandaiannya udah yg buruk2…
78. Seakan kehendak adalah kehendak kita. Seakan kejadian masa depan berdasarkan prediksi kita. Pdhl ms dpn, sepenuhnya di tgn Allah.
79. Ayahnya sambil ngelirik ke @yusuf_mansur, melemah. Mau rasanya ngasih duit aja ke si abang. Anak kesayangannya. Tappppiii…
80. Tapi kapan lagi belajar yakin? Belajar sabar, belajar pasrah? Ya skrng. Abang udah deket, menuju pembelajaran keyakinan.
81. Setelah dibujuk, abang mau mandi. Abang jalan kemudian ke sekolah. Ayahnya sama se-x ga ngasih embel2 apa2. Misalnya: ayah susul.
82. Pokoknya anaknya diajarkan keyakinan TANPA KOMA. “Di sana Allah sudah menunggumu Nak. Pergilah. Doa ayah menyertai…”
83. Pergilah si abang. Menangislah sang ayah. Bundanya pun demikian. Ga bisa ngapa2in. Kepengen juga bundanya ngasih diem2…
84. Tapi bundanya abang pun belajar kultwit #10rb, ho ho ho ho… Jadi, beliau mau yakin bahwa abang bakalan ketemu Allah…
85. Nashrun minallaah, pertolongan dari Allah, wa fathun qoriib, dan kemenanganpun sdh dekat. Ayah bunda, mendoakan abang…
86. Sampe sekolah, setelah dihantar itu keinginan ikut studi tour dg dhuha, shalat2 wajib, doa… Alhamdulillaah…
87. Alhamdulillaah abang DITINGGAL… He he he… Satu2 diabsen, disuruh naik bus. Tapi abang ga boleh. Sbb belom bayar.
88. Sebentar sebentar… Sebab belom bayar…? Abang mencoba tersenyum… Sebab Allah ga mengizinkan… Begitu dia menentramkan hati.
89. Sampe sini, apa yg Sdr saya semua rasakan…? Menelantarkan anak…? Ga kasian sama anak…? Atau gmn…? Coba saya pengen tahu.
94. Abang, dan semua anak kecil, pastilah menangis. Tapi abang hebat. Dia udah belajar nerima kenyataan pahit, dari kecil. Kita?
95. Kita ada yg baru belajar ttg kepahitan hidup, skrng2 ini. Makanya, dihajar 1-2 kesulitan, lsg tumbang. Bersyukur yg bnyk pahitnya.
96. Semua anak yg bayar, naik bus. Abang? Ga naik bus.
97. Tapi emang Allah ga mungkin melalaikan hamba2Nya yang yakin akan kehadiran diri-Nya, & yakin akan Pertolongan-Nya…
98. Sy sdh blg, blm tentu yg dah byr, bs ikut, &yg ga byr pasti ga bs ikut. Dari deretan bus, ada 1 bus yg pintunya terbuka lagi…
99. Keluarlah 1 anak dari bus tsb. Rupanya dia adlh ketua kelasnya si abang. Ketua kelas ini menghampiri abang penuh perhatian…
100. “Kenapa Kamu ga ikut…?” Tanya sang ketua kelas. “Ya gitu deh…” Abang ga mau jwb knp. Sbb mana ada yg percaya, ini sbb Allah.
101. Semua pasti berpikir sama, sbb duit. “Ga bayar ya?”, desak ketua kelas. Abang jwb lagi, “Yaaa… Gitu deh…”. Ada sdkt harapan.
102. Bahwa kayaknya bakal diajak nih sama kawannya ini, ketua kelas. “Oh jadi Kamu ga ikut sbb ga bayar…”, katanya menebak.
103. Di tengah harapan, ketua kelas berkata, “Okke deh. Kami jalan dulu… Jagain sekolah ya kalo begitu…” He he, Abang trbengong2..
104. Kirain Abang, ketua kelas ini turun sbb perhatian. Lalu Abang diajaknya. Ternyata… Hiks hiks hiks… Tega bangeeeetttsss…
105. Saudaraku, di tengah2 kesulitan, akan selalu ada harapan2. Namun spy ga kecewa, tetaplah jgn berpaling dari Allah.
106. Jangan mau berpaling kpd selain Allah, walaupun sudah dijanjikan ini itu. Sbatas ikhtiar saja. Jgn pernah.
107. Sbb kalo berpaling jadi berharap sama manusia, ntar patah lagi, makin dalem kecewanya. POL aja ke Allah harapan disandarkan.
108. Abang trdiam. Sekali lagi ia nyesek dadanya. Yah, beginilah belajar tauhid. Tapi ujungnya indaaaaaahhh…
109. Dan sbnrnya, di prosesnya pun indah, jika sedari awal yakin, Allah ada. Dan ga mungkin ngecewain. Semua trserah Allah.
110. Apalagi jika berbalut dg baik sangka, percaya sama apa yang Allah atur. Tentulah adem. Tapi si abang adalah anak kecil…
111. Tapi justru dari kecil itulah, pelajaran hidup bila diterima dari awal, ia akan kuat. Kita, sekali lagi, memperlemahnya.
112. Andai Allah menghadirkan seorang ayah di sisi saya, saat saya lahir, belom tentu saya seperti ini. Ya Allah…
113. Andai 1 rumah tangga tidak dipisahkan oleh Allah, sejarah puluhan tahun kemudian tidak akan trjadi.
114. Sungguh, hanya yg berbaik sangka, yg akan berterima kasih kpd Allah, dan kpd masa lalunya. Semua berkontribusi u/ masa dpnnya.
115. Bila masih ada yg susah, teruslah berjalan. Hingga ia berterima kasih pernah dibuat susah.
116. Seorang pedagang, dihina kamtib. Dihancurleburkan dagangannya. Ia menangis. Sekian tahun kemudian, ia terus mengingat ini.
117. Diingat sbg bukan sbg pahlawan yg sdh menjadikannya kaya skrng ini. Tapi diingat, kelakuannya kamtib tsb. Pdhl ia sangat berjasa.
118. Kalau dulu Allah tidak gerakkan, maka tidak akan ada @masmono08 dg ayam bakarnya, he he he. Tp di situ bedanya. Mono TOP dah.
119. Bnyk orang yg malah menyimpan dendam thd masa lalu, &orang2 yg dianggapnya menyusahkannya. Ssungguhnya mrk2 pahlawan2 buat dia…
120. Abang kemudian ditinggal. Satu demi satu bus, pergi berlalu. Meninggalkan dia. Semua yg di bus, mlambaikan tangannya ke si abang.
121. Bus ketua kelas melintas… Abang mencoba tersenyum, “Silahkan kalian pergi. Biar saya bersama Allah, di sini… Saya doakan…”
122. Abang menangis. Sungguh, abang menangis. “Ayah, engkau lihat skrng aku ini… Engkau benar. Aku benar2 ditinggal…”
123. Tanpa si abang tahu, Allah dan malaikat-Nya, udah sedari pagi ada di sana…
124. Pertolongan Allah selalu akan datang pada saat yang tepat… Kapan mempercepatnya, nanti kita bahas tersendiri…
125. Abang menangis. Dalam tangisannya, lerung hati abang berkata, “Aku ridho Ayah. Aku ridho. Aku sudah shalat, doa. Aku ridho…”
126. Mataku pun berkaca2. Aku, Yusuf Mansur, rindu akan hadirnya ayah… Saat anak2 lain berbanjir2 dg ayahnya, sambil maen perahu2an.
127. Tapi tak kutemukan ayah di sisiku… Tak kutemukan pula kakak di sisiku… Bnyk yg brperan sbg ayah&kakak. Namun tak trgantikan..
128. Belom lagi ketika aku berantem. Berkelahi… Seakan tak ada yg membela diriku… Usia 5th, ibuku menikah lagi.. Pahlawan itu dtg.
129. Ah, saya lg cerita ttg abang. Ttg #10rb Penghasilan 10rb sebulan, buat mereka yang tuhannya Allah, dah kebanyakan. Bukan ttg aku.
130. Di tengah kekuranganku yg lahir tnp ayah, Allah sangat bertanggung jwb. DIA mengirimkan nenekku, pamanku, bibiku, dg 7 anaknya.
131. Untuk mendampingiku… Ya, sesungguhnya Allah selalu mendampingi… Dan itulah Kesempurnaan-Nya.
132. Abang mengambil tas nya. Abang melihat mushalla sekolah. Seakan mushalla ini memanggilnya. “Shalatlah dulu… Lapor lagi…”.
133. Abang masuk ke mushalla. Ia ambil air wudhu… Adem. Adem. Ia tersenyum. Mau menenggelamkan diri di air wudhu…
134. Tringat ia pesan ayahnya. “Kalau Abang nanti ditinggal, ketahuilah, Allah bersama Abang… Abang udah dpt shalat, dpt doa…”
135. Abang shalat dhuha… Lagi… Abang lapor sama Allah… Makasih, dah bikin saya ditinggal… (He he he he… Tetep ngadu, ngeluh.
136. Tapi sama Allah. Ga sama yg lain). “Ya Allah, saya diajarkan sama ayah, u/ tidak bergantung dg uang. Skrng saya ditinggal…”
137. “Selamatkan kwn2ku semua… Di perjalanan pergi&pulangnya. Jgn sampe mereka menangis seperti diriku…”

138. Di ujung tempat yg lain, di rumah abang… Ayah&ibunya pun berbalut wudhu… Keduanya menitipkan Abang kpd Allah. Sempurna…
139. Allah menahan langkah Abang, u/ jgn pulang dulu. Sbb Miracle is coming… Masuk ke sekolah yg kosong, sebuah alphard hitam…
140. Keluar pula Abang dari mushalla. Bareng dg keluarnya seorang anak dg ibunya… “Udah pergi semua ya…?” Tanya anak itu…
141. Abang menjawab, “Wa’alaikumussalaaam…” Dewasa sekali. Abang jadi dewasa! Kawannya tak memberi salam, diberinya salam…
142. Kesusahan demi kesusahan, akan membuat seseorang menjadi dewasa.
143. Kalaupun keadilan dan kasih sayang Allah, dirasa tak sempurna, Allah menyediakan hari akhir… Untuk menyempurnakan segalanya…
144. “Iya, sudah berangkat semua…”. Anak ini kemudian lapor ke ibunya… Kemudian, anak ini nanya? “Kamu kenapa? Ketinggalan juga?”
145. Abang ga mau jawab. Tar disuruh jagain sekolah lagi, ha ha ha…
146. Anak ini kemudian blg, tanpa menunggu jawaban, “Kita susul yuuuuuukkk…???”
147. Abang meneteskan air mata… Ga salah denger nih? Ga disuruh jaga sekolahan? He he… Kejem amat @yusuf_mansur kalo gitu mah…
148. Ibu anak ini ngasih isyarat, dg pindah ke kursi depan… “Silahkan Nak… Kita susul…” Abang naik… Naik bukan dg duit…
149. Abang mendengar suara ibu itu… “Pak, lsg aja ke lokasi…”. Subhaanallaah… Abang denger itu… Dikirain cuma nyusul bus…
150. Dia udah merenyi merenyi. Kalo nyusulnya sampe bus, duh, gimana? Tapi Abang aman. Nyusulnya lsg ke lokasi…
151. Ayah ibunya Abang, selesai juga shalat&mendoakan. Mereka menunggu di pintu. Mereka siap menanti abang plg dlm keadaan menangis.
152. Tapi Keajaiban-Nya adalah buat siapa yang mau mempercayai-Nya. DIA sebaik2 Penolong&Wakil semua urusan…
153. Di dalam mobil alphard Abang tersenyum. Dia mengingat walikelas yg mencoretnya. Dia mengingat ketua kelasnya, he he…
154. Abang ga mau jadi the looser. Pesan ayahnya, harus ttp baik, dan mendoakan. Ia berterima kasih kpd ketua kelasnya juga…
155. Andai ia dibawa oleh ketua kelas naik bus, maka ia akan jadi yg dikasihani. Daaaannn… Ga bakalan naik alphard… Subhaanallaah.
156. Abang tambah tersenyum, KM 39 mampir ke Rest Area. Setiap rest area, mampir. Mampir ke toilet, he he he…
157. Ada saja yg dibelikan oleh ibunya kawannya ini… Membuat Abang jd tambah berterima kasih sama Allah…
158. Jika saudara semua kuat… Sungguh, hari pertolongan yg dijanjikan-Nya, akan mengubur segala duka. Lalui aja dulu, sampe MENTOK.
159. Sambil makan roti mewah isi pisang cokelat, Abang tersenyum lagi… Yg di bus, paling top, LONTONG, he he he…
160. Abang pulang malam harinya, diantar sampai depan rumahnya. Masih dg alphard hitam… Subhaanallaah… Walhamdulillaah…
161. Saya bagi kisah hebat ini u/ semua yang percaya, bhw penghasilan 10rb, dah kebanyakan buat mereka yang tuhannya adalah Allah.
162. Menjelang tidur, Abang pun selesai bercerita kpd ayah ibunya… Bercerita dg lisan dan mata yg sdh ada Allah di sana…
163. Sambil mengecup abang, ayahnya berkata, “Bang… Untuk bayaran SPP bulan dpn… Begini lagi ya…” THE END. Saya trbang dulu ya.
164. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Salam buat keluarga. Mhn doa buat penerbangan Bengkulu-Jkt, sampe ke rumah.
165. Daaaaannn, saya ga pake duit. Ya iya laaaaahhh… Ustadz gitu loh… Dibayarin panitia. Eeeeiiittt… Dibayarin Allah…
166. Semua bisa begini… Asal yakin. Siapalah juga dulu saya… Skrng pun siapa juga, tanpa adanya Allah…

Copas dari millist Pengusaha Muslim

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wbarakatuh
Sedikit sharing saya :
————–

Sudah setahun lebih, setiap hari saya kedatangan seorang “tamu” penjual telur ayam kampung. Kadang-kadang ia datang bersama dengan anak bungsunya,kadang-kadang dengan cucunya. Namun lebih sering ia datang sendiri.

Begitupun,kadang-kadang ia datang pagi hari, namun tak jarang ia datang di sore hari setelah telur dagangannya habis terjual. Jangan bayangankan ia membawa puluhan lusin telur. Karena tubuhnya cukup renta dimakan oleh kemiskinan dan usia yang hampir 60 tahun,ia hanya mampu membawa 2-3 lusin telur. Ia menjual 2 ribu rupiah pertelur. Bisa dihitung pendapatannya jika seluruh telur yang dibawanya habis terjual. Oya, jangan lupa kurangi modal belinya yah.

Kedatangannya setiap hari ke rumah bukan karena ia ingin menawarankan dagangannya. Namun, karena “status” saya sebagai bendahara pembangunan mesjid di komplek kami.
Setiap hari Ibu Penjual Telur menitipkan uang untuk sumbangan pembangunan mesjid. Ketika disarankan untuk memasukkan ke kotak amal di mesjid saja,
“Malu Bu, kalau keliatan orang. Saya cuma mampu nyumbang 5000. Saya titip ke Ibu saja ya” Jawabnya. Memang kotak sumbangan mesjid tersebut terbuat dari kaca, sehingga siapapun bisa melihat jumlah uang yang “dicemplung”kan ke dalam kotak tersebut.

Maka tiap hari Ibu tersebut bertamu ke rumah. Beberapa kali datang hingga 2-3 kali , namun tidak juga ketemu saya. Menitip ke “orang rumah”pun ia tidak mau. Lagi-lagi alasannya malu jika ketahuan orang lain. Sehingga kami sepakati jika ia datang dan tidak bertemu dengan saya dirumah, maka uang sumbangan ia simpan didalam keranjang sepeda anak saya (yang diparkir di carport) lalu ditutupi kertas koran.
Ritual sayapun jika bepergian dan sampai dirumah sudah malam, maka saya selalu menyempatkan mengecek “isi” keranjang sepeda tersebut. Dan selalu saya menemukan uang 5000 rupiah.

Setahun lebih pembangun mesjid berjalan, sekarang mesjid yang megah telah berdiri dengan sempurna. Lantai dan dindingnya mengkilat oleh marmer. Dilengkapi beberapa kipas angin besar sebangai pendingin udara.
Ba’da Subuh sebelum syukuran selesainya pembangunan mesjid, saya melihat Ibu Penjual Telur menangis tersedu-sedu dipelataran masjid.
“Bu, senang ya. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pembangunan mesjid ini. Insyaa Allah pahala Ibu mengalir selama mesjid ini berdiri”
“Aamiiinnn…” jawabnya. Namun sedu sedannya tidak juga berhenti.
“Jangan nangis dong Bu, Ibu ngga sakit’kan?” Tanya saya, risih juga menemani orang yang terus menangis.
“Saya seneng mesjid ini udah jadi Bu. Tapi saya sedih, saya tidak bisa lagi membersihkan uang yang saya dapet tiap hari.”

“Tetangga –tetangga saya hidupnya pada enak. Kerja kantoran atau kerja di pabrik. Jadi saya sedekah ke mana kalau ngga ke mesjid “ lanjutnya.

Subhanallah, penghasilannya tidak seberapa. Namun, ia sadaqahkan sebagian keuntungannya berjualan telur karena ia menyadari pentingnya membersihkan hartanya.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Rinny Ermiyanti

Mimpi yang terlarang… Berikut ini cerita tentang seorang anak petani miskin di sebuah sekolah dasar di australia di sebuah wilayah pedesaan yang cukup terpencil. Beberapa puluh tahun yang lalu, disuatu hari saat anak ini sekolah, sang guru seni menyuruh anak didiknya untuk menggambar rumah impiannya, sangat tidak disangka anak petani miskin ini menggambar rumah yang sangat besar dan mewah. Dengan keyakinan tinggi si anak merasa bahwa gambarnya bagus dan layak mendapatkan nilai A, namun apa yang terjadi ? sang guru memberikan nilai F untuk gambarnya tersebut. Anak tersebut memprotes sang guru, “Kenapa engkau memberikan aku nilai F padahal rumah yang ku gambar sangat bagus ?” Sang guru menjawab, “Engkau terlalu menghayal ! bagaimana mungkin engkau seorang anak petani miskin di desa kecil ini dapat memiliki rumah besar dan mewah seperti itu ? sangat tidak masuk diakal !!” Rupanya anak kecil tersebut benar-benar kecewa dengan penilaian gurunya tersebut, namun dia tidak putus asa, kejadian ini membuat dia benar-benar berjuang keras untuk mewujudkan mimpinya. Di akhir cerita, terbuktilah bahwa anak petani di desa terpencil tersebut berhasil mewujudkan mimpinya, ia sekarang sudah menjadi pengusaha sukses dan berhasil membangung sebuah rumah besar dan mewah seperti yang dahulu diimpikannya. Saat rumah tersebut selesai dibuat, ia mengundang teman2 dan warga disekitar rumahnya, termasuk gurunya yang dahulu memberikan nilai F untuk mimpi besarnya. Sang guru hanya bisa terdiam dan tercengang saat melihat sebuah gambar yang sudah lusuh dalam sebuah pigura yang indah, sebuah gambar rumah besar dan mewah dengan nilai F, tulisan tangan sang guru. Pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah ini, jangan pernah berkecil hati jika orang-orang menertawakan mimpi2 Anda, jangan takut mengejar mimpi meskipun Anda dianggap sebagai orang gila. Jangan khawatir, hampir sebagian besar pengusaha sukses dan orang2 hebat di dunia ini pernah dianggap gila oleh banyak orang.

diawal pernikahan kmi masih tinggal di rumah orangtua dan terpikirlah untuk mencoba mandiri …
pas bilang ama ortu eh malah kena marah ktanya udah ada fasilitas kok malah cari yg susah …
dg bulat hati kmi putuskan tetap keluar dr rumah walau baru ngontrak ….
lalu tak sengaja kami mendengar ceramah di tv tentang sedekah bsa mngabulkan smua permohonan dan harapan umatnya ….
dari sedekah yg mulanya “klo ingat” kmi jadikan rutinitas wajib ….
100 ribu tiap bln kami sisihkan dr gaji kami dg harapan bisa punya rumah sendiri …
ditengah jalan tiba2 kami diminta keluar dr kontrakan krn rmh itu sudah laku dijual ….
di saat yg sama saya terkena phk krn perusahaan melakukan pengurangan pegawai ….
sedihnya …
ortu mengatakan itulah ambil keputusan ngak pikir panjang tp kami tetap berusaha dg keputusan kami mencoba hidup mandiri ….
sedekah 100 ribu tetap kmi usahakan sambil trus berusaha …
terpuruk sekali saat kmi terpaksa pindah ke kontrakan yg kurang layak dan itu membuat anak2 sering sakit ….
kami berhemat dr banyak sisi sampai terkadang hanya makan telur ditambah tepung ….
alhamdulillah melihat kesungguhan kami untuk mandiri hati ortu tergerak ….
walau msh marah akhirnya mrk mau mampir ke rumah kmi dan menghargai keputusan kmi …
duh senangnya hati kami restu itu didapat sudah ….
dr situ perlahan kondisi kami membaik , dpt kontrakan lebih layak dan suami dapat promosi jabatan di kantornya …
sedekah ditambah jadi 200 ribu ,sedikit lebih banyak ….
kemudian terjadi lagi musibah suami jg terkena phk ….
duh bingung banget waktu itu tp bersyukur ortu sudah banyak beri dukungan “lagi”…
alhamdulillah sedekah msh bisa dilanjut dan suami dpt kerja baru lg ….
walau gaji tak seberapa sampai harus dikejar dept colector krn tagihan motor blm bisa kami bayar kami mencoba ikhlas ….
lalu cobaan datang lg keluarga tetangga yg puya rumah memutuskan 8 bln lagi rumah akan mrk tempati sendiri krn anaknya bekerja di kota ini ….
bingung lagi lah kami ini kali ke2 kami terusir memdadak ditambah sekarang kami punya 2 putra yg masih balita ….
tapi mukjizat allah memang datang tak terduga ….
usaha mesin suami yg sudah lama digeluti mendapat kontrak dr instansi pemerintah langsung sebanyak 4 mesin sekaligus ….
ya roob … keuntungan bersih kami terima saat itu langsung sebesar 200 juta di bayar di muka walaupun mesin belum jadi saat itu ….
bukan bermaksud pamer dg menyebut jumlahnya ….
tapi inilah janji allah , 2 thn kami sedekah dg harapan suatu saat bisa punya rumah dan di saat yg tdk terduga allah memberikan kpd kita di waktu yg tepat ….
rasa sedih dan bingung langsung hilang krn semua hutang bisa kmi lunasi bahkan membeli sebuah rumah terwujud sudah …..
krn dr itu sampai detik ini kami bersyukur bisa menambah jumlah sedekah kami lebih dr sebelumnya krn sekarang kami amat percaya apa arti sedekah itu dg membuktikannya langsung …
maka saudara jangan ragu mengeluarkan sedekah cepat atau lambat bila allah berkata tepat waktunya maka hasil itu pasti akan kita rasakan dg sangat banyak rasa syukur kpd “allah swt” ….

 
Malam itu saya memasak air dengan teko listrik pemasak untuk mandi air hangat. namun karena lelah saya tertidur hingga pagi. tak seorangpun di rumah yang menyadari. hingga pagi hari saat azan subuh berkumandang,saya bangun dan tersentak kaget. karena kabel teko pemasak air masih terhubung ke stop kontak. saya dapati elemen pemanas sudah gosong dan air di dalamnya sudah menguap habis. menurut pengalaman yang sama, teko itu tentu sempat meledak dan dapat menimbulkan kebakaran. akan tetapi, malam itu tidak terjadi apapun di rumah saya. saya beristigfar dan bersyukur kepada Allah. dalam ingatan saya, siang harinya saya baru saja menyedekahkan sebagian uang saku saya untuk pengembangan pendidikan anak-anak pemulung di bekasi. alhamdulillah, sedekah menghindarkan rumah saya dari kebakaran.