Skip to content

Agussupiyat's Blog

"Khoirunnas yanfauhum linnas"

Copas dari millist Pengusaha Muslim

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wbarakatuh
Sedikit sharing saya :
————–

Sudah setahun lebih, setiap hari saya kedatangan seorang “tamu” penjual telur ayam kampung. Kadang-kadang ia datang bersama dengan anak bungsunya,kadang-kadang dengan cucunya. Namun lebih sering ia datang sendiri.

Begitupun,kadang-kadang ia datang pagi hari, namun tak jarang ia datang di sore hari setelah telur dagangannya habis terjual. Jangan bayangankan ia membawa puluhan lusin telur. Karena tubuhnya cukup renta dimakan oleh kemiskinan dan usia yang hampir 60 tahun,ia hanya mampu membawa 2-3 lusin telur. Ia menjual 2 ribu rupiah pertelur. Bisa dihitung pendapatannya jika seluruh telur yang dibawanya habis terjual. Oya, jangan lupa kurangi modal belinya yah.

Kedatangannya setiap hari ke rumah bukan karena ia ingin menawarankan dagangannya. Namun, karena “status” saya sebagai bendahara pembangunan mesjid di komplek kami.
Setiap hari Ibu Penjual Telur menitipkan uang untuk sumbangan pembangunan mesjid. Ketika disarankan untuk memasukkan ke kotak amal di mesjid saja,
“Malu Bu, kalau keliatan orang. Saya cuma mampu nyumbang 5000. Saya titip ke Ibu saja ya” Jawabnya. Memang kotak sumbangan mesjid tersebut terbuat dari kaca, sehingga siapapun bisa melihat jumlah uang yang “dicemplung”kan ke dalam kotak tersebut.

Maka tiap hari Ibu tersebut bertamu ke rumah. Beberapa kali datang hingga 2-3 kali , namun tidak juga ketemu saya. Menitip ke “orang rumah”pun ia tidak mau. Lagi-lagi alasannya malu jika ketahuan orang lain. Sehingga kami sepakati jika ia datang dan tidak bertemu dengan saya dirumah, maka uang sumbangan ia simpan didalam keranjang sepeda anak saya (yang diparkir di carport) lalu ditutupi kertas koran.
Ritual sayapun jika bepergian dan sampai dirumah sudah malam, maka saya selalu menyempatkan mengecek “isi” keranjang sepeda tersebut. Dan selalu saya menemukan uang 5000 rupiah.

Setahun lebih pembangun mesjid berjalan, sekarang mesjid yang megah telah berdiri dengan sempurna. Lantai dan dindingnya mengkilat oleh marmer. Dilengkapi beberapa kipas angin besar sebangai pendingin udara.
Ba’da Subuh sebelum syukuran selesainya pembangunan mesjid, saya melihat Ibu Penjual Telur menangis tersedu-sedu dipelataran masjid.
“Bu, senang ya. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pembangunan mesjid ini. Insyaa Allah pahala Ibu mengalir selama mesjid ini berdiri”
“Aamiiinnn…” jawabnya. Namun sedu sedannya tidak juga berhenti.
“Jangan nangis dong Bu, Ibu ngga sakit’kan?” Tanya saya, risih juga menemani orang yang terus menangis.
“Saya seneng mesjid ini udah jadi Bu. Tapi saya sedih, saya tidak bisa lagi membersihkan uang yang saya dapet tiap hari.”

“Tetangga –tetangga saya hidupnya pada enak. Kerja kantoran atau kerja di pabrik. Jadi saya sedekah ke mana kalau ngga ke mesjid “ lanjutnya.

Subhanallah, penghasilannya tidak seberapa. Namun, ia sadaqahkan sebagian keuntungannya berjualan telur karena ia menyadari pentingnya membersihkan hartanya.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Rinny Ermiyanti

Iklan

%d blogger menyukai ini: